Otomotif

Belum Terkalahkan Mobil China, Toyota Masih Jadi Raja Otomotif Dunia

Jakarta – Posisi Toyota sebagai raja otomotif dunia belum terkalahkan. Bahkan, mobil China yang akhir-akhir ini menginvasi dunia, belum mampu menggeser dominasi Toyota.
Dikutip dari Kyodo News, Toyota Motor Corp mengumumkan angka penjualan yang masih unggul dibanding kompetitornya. Berdasarkan data penjualan semester pertama tahun 2026, Toyota mempertahankan posisi teratasnya dalam penjualan global. Ini menjadi tahun ketujuh secara berturut-turut Toyota menjadi raja otomotif dunia dalam separuh tahun.

Toyota melaporkan penjualan mobil sebanyak 5,39 juta unit di seluruh dunia sepanjang Januari-Juni 2026. Angka itu mengungguli pesaingnya dari Jerman, Volkswagen AG.
Namun, penjualan global pada periode Januari-Juni turun 2,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Toyota mencatat permintaan yang lesu di China karena kenaikan harga bensin di tengah ketegangan di Timur Tengah.

Toyota juga mengalami penurunan ekspor dari Jepang ke Timur Tengah sebesar 36 persen.
Penjualan Toyota di luar Jepang turun 4,5 persen menjadi 4,30 juta kendaraan. Sedangkan penjualan domestik di Jepang mencapai 1,1 juta unit, naik 4,4 persen karena didorong oleh penjualan yang kuat dari mobil listrik bZ4X baru.

Penjualan kendaraan elektrifikasi Toyota didominasi oleh mobil hybrid yang tumbuh 9,1 persen menjadi 2,71 juta unit. Sedangkan penjualan mobil listrik Toyota melonjak sekitar 2,4 kali lipat menjadi 193.172 kendaraan, kedua kendaraan elektrifikasi itu menandai rekor tertinggi untuk semester pertama.
Berdasarkan negara dan wilayah, penjualan Toyota di China turun 17,1 persen menjadi 694.670 unit, sementara Timur Tengah mengalami penurunan penjualan sebesar 21,6 persen menjadi 218.855 mobil. Penjualan di Amerika Utara sedikit meningkat 0,9 persen menjadi 1,45 juta kendaraan, dibantu oleh permintaan yang kuat untuk kendaraan hybrid.
Sementara itu, kompetitor terdekat Toyota, Volkswagen AG menjual sekitar 4,13 juta unit pada periode yang sama. Volkswagen mengalami gangguan logistik lantaran situasi panas di Timur Tengah yang membebani operasional.

Related Articles

Back to top button