Sepak bola

Mengapa pemecatan Ruben Amorim tidak solusi bagi Manchester United?

DKI Jakarta – Pemecatan Ruben Amorim menambah masa berlaku daftar kegagalan Manchester United pasca-Sir Alex Ferguson. Sepuluh instruktur telah terjadi berganti sejak 2013 juga tidaklah satu pun menyebabkan klub kembali ke puncak Turnamen Inggris.

Angka ini tak lagi mampu dibaca sebagai rangkaian kesalahan individu. Ia sudah ada cukup panjang untuk dipahami sebagai kesulitan sistemik.

Amorim datang ke Old Trafford pada situasi klub yang digunakan belum stabil secara teknis maupun struktural. Komposisi skuad terbentuk dari beragam era, dengan permintaan sistem yang digunakan saling bertabrakan.

Sejak awal, Amorim menyampaikan bahwa Manchester United belum berada pada tahap untuk bersaing bersaing untuk penghargaan liga di waktu dekat. Target dua hingga tiga tahun disampaikan sebagai garis realistis pembangunan, tidak sebagai penurunan ambisi.

Secara performa di dalam musim 2025/2026, United tiada berada pada situasi krisis. Kedudukan ke papan melawan klasemen menunjukkan stabilitas relatif. Rangkaian permainan mulai terlihat lebih besar konsentris berbeda dengan musim sebelumnya yang digunakan hancur dan juga berakhir dalam sikap 15.

Beberapa pemain yang dimaksud tidaklah sesuai dengan pendekatan Amorim secara bertahap disisihkan, dan juga intensitas latihan diarahkan pada satu sistem yang tersebut serupa sejak awal musim, yang tersebut banyak penduduk mengomentari pedas terhadap keras kepalanya Amorim dengan formasi 3-4-3.

Di setengah musim 2025/2026, langkah-langkah dari sistem itu belum sepenuhnya matang, tetapi arahnya telah lumayan jelas. Namun, kabar pemecatan Amorim muncul tanpa peringatan saat fase yang dimaksud sedang berjalan, tidak sewaktu regu terpuruk tanpa arah.

Keputusan ini bukan sanggup dilepaskan dari konteks internal klub. Sejak era keluarga Glazer, Manchester United beroperasi dengan logika yang digunakan berbeda dari klub-klub yang tersebut sedang memulai pembangunan ulang secara serius.

Prioritas komersial miliki bobot besar pada pengambilan keputusan. Ketahanan citra serta nilai bidang usaha banyak kali tambahan menentukan daripada permintaan teknis jangka menengah. Tak heran Louis van Gaal pernah mengatakan Manchester United sebagai klub komersial, tidak klub sepak bola.

Jose Mourinho pernah memberikan pandangan yang dimaksud lebih tinggi tajam sewaktu menyampaikan musim 2017/2018, di dalam mana ia menghadirkan MU berubah menjadi runner up ke akhir musim, sebagai pencapaian terbesarnya pada karier kepelatihan. Saat itu United finis di dalam peringkat kedua Kompetisi Inggris dengan selisih poin yang digunakan berjauhan dari Manchester City.

Bagi klub lain, tempat yang disebutkan kemungkinan besar dinilai wajar. Bagi Mourinho, hasil itu dicapai dengan situasi internal yang dimaksud tidaklah memperkuat kerja teknis secara optimal. Pernyataan itu menunjukkan bahwa bahkan pada saat hasil terlihat baik pada tabel klasemen, fondasi klub masih rapuh.

Perbandingan dengan Liverpool serta Arsenal memperlihatkan perbedaan pendekatan yang mencolok. Jurgen Klopp mulai melatih Liverpool pada 2015. Dalam dua musim awal, Liverpool belum bermetamorfosis menjadi penantang serius. Finis di dalam papan sedang dan juga empat besar diterima sebagai bagian dari proses.

Klub mendirikan rangka rekrutmen yang digunakan memperkuat permintaan pelatih. Pemain dibeli untuk sistem, bukanlah untuk nama. Tekanan media tak diterjemahkan berubah jadi inovasi arah setiap musim.

Arsenal menempuh jalur yang tersebut lebih besar berat. Mikel Arteta dua kali finis di kedudukan delapan dan juga menghadapi ketidakpuasan pendukung. Klub masih bertahan pada rencana yang tersebut sama.

Pemain-pemain yang mana tidak ada sesuai dengan arah permainan dilepas, walau dengan konsekuensi finansial. Arsenal menerima fase kompetitif yang mana lebih lanjut rendah sebagai nilai tukar dari restrukturisasi jangka panjang. Hasilnya terlihat pada konsistensi performa lalu identitas permainan pada waktu ini, meskipun trofi liga belum datang.

Manchester United tak pernah sepenuhnya menjalani fase tersebut. Setiap proyek pengerjaan terus-menerus dipotong ke berada dalam jalan. Kepelatihan diminta membangun, tetapi dinilai berdasarkan hasil jangka pendek.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence pada platform web ini tanpa izin ditulis dari Kantor Berita ANTARA.

Related Articles

Back to top button