
Microsoft Teams disebut berubah jadi salah satu aplikasi favorit penipu (scammer) asal China.
Platform komunikasi milik Microsoft ini dipakai untuk menjalankan berbagai modus penipuan, mulai dari percintaan palsu hingga lowongan kerja bohongan.
Teams sendiri dikenal luas sebagai salah satu aplikasi dalam paket layanan Microsoft 365, yang dipakai jutaan pengguna korporat di seluruh dunia.
Media Wired menganalisis 500 ulasan aplikasi Teams di App Store versi China milik Apple, sepanjang 18 bulan terakhir. Sekitar 30 persen dari ulasan itu berisi keluhan soal penipuan. Keluhan soal modus penipuan lewat Teams ini bahkan sudah ada sejak 2022.
Modus penipuan ini biasanya dimulai dari platform media sosial populer di China, seperti Xiaohongshu (RedNote) atau Douyin. Pelaku menghubungi calon korban sambil menyamar sebagai perekrut kerja, pasangan romantis, mitra bisnis, hingga vendor pabrik.
Pada modus lowongan kerja palsu, korban biasanya dijanjikan pekerjaan bergaji tinggi dengan sistem kerja remote. Korban lantas diarahkan pindah ke Teams, dengan dalih proses wawancara maupun pengiriman dokumen pribadi.
Selain Microsoft Teams, platform kolaborasi bisnis lain, seperti Cisco Webex juga disebut dipakai jaringan penipu dengan modus serupa.
Baca juga: Kisah AA, Korban Pig Butchering Asal Indonesia yang Rugi Rp 500-an Juta
Setelah korban percaya, pelaku meminta korban mengunduh Microsoft Teams. Korban lantas diminta login memakai akun yang sudah disiapkan pelaku sendiri, bukan akun pribadi korban.
Pelaku biasanya memberi alasan untuk proses login yang tidak lazim ini. Salah satu dalih yang dipakai adalah klaim soal “rahasia bersama” antara kedua pihak. Alasan lain yang juga sering dipakai adalah mereka memakai perangkat kantor dengan akses aplikasi yang dibatasi.
Begitu aksi penipuan selesai, pelaku langsung menonaktifkan akun Teams yang dipakai. Korban pun kehilangan akses ke seluruh riwayat percakapan, yang sebenarnya bisa jadi bukti penting buat melapor ke pihak berwajib.
Tanpa bukti percakapan ini, korban makin kesulitan membuktikan kronologi penipuan kepada polisi, apalagi pelaku kerap beroperasi lintas negara sehingga sulit dilacak.
Kesan resmi dan profesional yang melekat pada Microsoft Teams turut bikin korban gampang percaya. Platform ini dikenal luas sebagai layanan kerja resmi perusahaan-perusahaan besar, sehingga jarang dicurigai sebagai media penipuan.
Kerugian capai miliaran, bukti pun ikut lenyap
Zhao, warga Beijing, jadi salah satu korban modus penipuan berkedok cinta lewat Teams ini. la kehilangan lebih dari 100.000 dollar AS (sekitar Rp 1,8 miliar) pada Mei 2026.
Modus penipuan percintaan semacam ini umumnya diawali pendekatan personal yang berlangsung berminggu-minggu. Korban baru diarahkan melakukan transfer uang, setelah kepercayaan sudah terbangun cukup kuat.
Kerugian korban penipuan lewat Teams ini bervariasi, mulai dari 1.500 dollar AS (sekitar Rp 27 juta) hingga 300.000 dollar AS (sekitar Rp 5,4 miliar).
Dari sekian banyak korban, cuma satu orang yang berhasil memulihkan sebagian dananya, setelah pihak berwajib melacak rekening bank penerima transfer.
Microsoft bertindak, China pun turun tangan
Maraknya keluhan soal penipuan ini turut menekan reputasi Microsoft di China, mengingat Teams selama ini dipromosikan sebagai platform kerja yang aman, baik bagi bisnis maupun individu.
Steven Masada, Kepala Divisi Kejahatan Digital Microsoft, menanggapi temuan ini.
“Kami menyelidiki laporan penyalahgunaan, mengambil tindakan terhadap akun yang melanggar kebijakan kami, dan terus memperkuat keamanan yang dirancang untuk mengidentifikasi serta menghentikan aktivitas penipuan,” kata Masada seperti dihimpun KompasTekno dari Wired.
Microsoft sendiri sudah mengambil sejumlah langkah nyata. Pada Juni 2026, perusahaan ini memasang banner peringatan di aplikasi Teams versi China.
Pada Agustus 2026, Microsoft bahkan menghapus versi Teams untuk pengguna pribadi di China, dan cuma menyisakan akses lewat akun korporat.
Otoritas penegak hukum China turut mengeluarkan peringatan resmi soal Teams sebagai aplikasi penipuan. Peringatan ini ditujukan supaya masyarakat lebih waspada, terutama saat diminta pindah ke platform yang jarang dipakai untuk urusan pribadi sehari-hari.
Platform jejaring profesional Maimai bahkan memasang sistem peringatan otomatis, yang aktif begitu mendeteksi kata kunci “Teams”
atau “Slone” dalam poroakanan popggupanya



