Sepak bola

Liverpool Ingin Lebih Agresif, Begini Cara Andoni Iraola Akan Mengubah Wajah The Reds

DKI JAKARTA – Liverpool resmi mengakhiri kerja sama dengan Arne Slot hanya setahun setelah pelatih asal Belanda itu mempersembahkan gelar liga ke-20 bagi klub. Keputusan tersebut muncul setelah performa tim mengalami penurunan signifikan sepanjang musim lalu.

Jumlah poin Liverpool merosot drastis dibanding musim debut Slot. The Reds juga menelan kekalahan tiga kali lebih banyak di Premier League, memunculkan pertanyaan mengenai arah perkembangan tim di bawah sang pelatih.

Namun, faktor hasil bukan satu-satunya alasan di balik perubahan tersebut. Liverpool disebut menginginkan pendekatan yang berbeda, dengan gaya bermain yang lebih agresif, cepat, dan menekan lawan secara intens, sesuatu yang kini diharapkan hadir melalui kedatangan Andoni Iraola.

Andoni Iraola Datang Membawa Identitas Berbeda

Andoni Iraola Datang Membawa Identitas Berbeda

Penunjukan Iraola dipandang selaras dengan keinginan Liverpool untuk mengubah arah permainan. Selama tiga musim menangani Bournemouth, pelatih berusia 43 tahun itu membangun salah satu tim paling agresif di Eropa saat tidak menguasai bola.

Bournemouth dikenal dengan tekanan tinggi yang konstan serta pendekatan menyerang yang langsung mengarah ke gawang lawan. Musim lalu mereka menjadi salah satu tim dengan jumlah gol terbanyak yang lahir dari serangan cepat menurut data Opta.

Pendekatan tersebut sangat berbeda dengan Liverpool era Slot yang lebih mengandalkan penguasaan bola dan tempo permainan yang terukur. Dalam praktiknya, metode itu dinilai tidak mampu memberikan kontrol yang cukup untuk menjaga konsistensi kemenangan sepanjang musim.

Meski demikian, tantangan terbesar Iraola bukan hanya menerapkan idenya di klub sebesar Liverpool. Ia juga harus memastikan skuad yang musim lalu tidak selalu menekan secara konsisten mampu beradaptasi dengan tuntutan fisik dan taktis yang jauh lebih tinggi.

Perombakan Skuad dan Tuntutan Fisik Menjadi Kunci

Perombakan Skuad dan Tuntutan Fisik Menjadi Kunci

Gaya bermain Iraola membutuhkan pemain dengan kondisi fisik prima yang mampu berlari intens, memenangkan duel, dan terus bergerak selama pertandingan. Bournemouth bahkan menjadi tim dengan catatan jarak lari intensitas tinggi tertinggi di lima liga top Eropa musim lalu ketika bola berada dalam permainan.

Karena itu, bursa transfer diperkirakan akan menjadi bagian penting dari proyek barunya. Hubungan erat Iraola dengan direktur olahraga Liverpool Richard Hughes, yang sebelumnya bekerja sama di Bournemouth, dapat membantu proses identifikasi pemain yang sesuai dengan kebutuhan sistem tersebut.

Kesuksesan Bournemouth dalam merekrut pemain seperti Antoine Semenyo, Milos Kerkez, dan Dean Huijsen menjadi contoh bagaimana kolaborasi tersebut pernah menghasilkan keuntungan besar sekaligus peningkatan performa tim. Di Liverpool, keduanya kini memiliki kesempatan memburu pemain dengan kualitas yang lebih tinggi.

Selain melalui transfer, Iraola juga dikenal mampu memaksimalkan potensi pemain yang sudah ada. Transformasi Ryan Christie dari pemain sayap menjadi gelandang bertahan di Bournemouth menunjukkan kemampuannya menemukan peran baru bagi pemain sesuai kebutuhan sistem.

Posisi yang Berpotensi Mengalami Perubahan Besar

Posisi yang Berpotensi Mengalami Perubahan Besar

Di lini belakang, Liverpool diperkirakan membutuhkan pemain yang lebih agresif dalam melakukan pressing. Bek tengah dalam sistem Iraola dituntut berani maju mengikuti pergerakan lawan dan mendukung tekanan yang dilakukan rekan-rekannya di area lebih depan.

Sementara itu, posisi bek kanan juga menjadi area yang berpotensi mendapat perhatian. Jeremie Frimpong dinilai belum menunjukkan kemampuan merebut bola yang konsisten di Premier League, sedangkan Conor Bradley masih terganggu masalah cedera lutut sejak awal 2026.

Di sektor tengah, Dominik Szoboszlai dianggap memiliki karakter yang sesuai dengan tuntutan Iraola. Selain kemampuan fisik, gelandang dalam sistem sang pelatih harus mampu membaca momen yang tepat untuk melakukan tekanan dan memenangkan bola kembali.

Alexis Mac Allister, Ryan Gravenberch, hingga Florian Wirtz juga disebut memiliki atribut yang bisa dikembangkan lebih jauh. Selain bertahan, gelandang Iraola dituntut aktif mendukung serangan balik dan segera kembali ke posisinya ketika transisi berubah arah.

Mencari Pengganti Salah dan Menyempurnakan Sistem Baru

Di lini depan, Liverpool menghadapi tantangan besar untuk mencari pengganti Mohamed Salah. Kehadiran Iraola diperkirakan akan membuat klub lebih memprioritaskan pemain sayap cepat yang mampu berkontribusi dalam serangan maupun pertahanan.

Liverpool disebut sedang menjalin komunikasi dengan RB Leipzig terkait kemungkinan transfer Yan Diomande. Selain itu, Rio Ngumoha yang masih berusia 17 tahun juga dinilai memiliki peluang berkembang dalam peran tersebut.

Untuk posisi penyerang tengah, Hugo Ekitike dinilai memiliki karakter yang cocok dengan permainan transisi cepat berkat performanya bersama Eintracht Frankfurt. Alexander Isak juga dianggap memiliki potensi serupa, meski keduanya pernah terganggu oleh masalah cedera.

Meski filosofi Iraola memiliki sejumlah kesamaan dengan periode sukses Liverpool ketika mengandalkan sepak bola transisi yang cepat, masih ada sejumlah persoalan skuad dan penyesuaian taktik yang harus diselesaikan. Karena itu, proses menuju versi terbaik Liverpool di bawah pelatih baru tersebut kemungkinan membutuhkan waktu.

Related Articles

Back to top button