Super Lig Turki Guncang Eropa dengan Gelombang Transfer Pemain Top

NagabolaNews – Turki sedang membangun citra baru di sepak bola Eropa. Super Lig Turkiye kini perlahan berubah menjadi tujuan menarik bagi pemain-pemain sepak bola ternama, terutama mereka yang sudah memasuki fase akhir karir mereka.
Fenomena ini mengingatkan pada apa yang sebelumnya terjadi di Arab Saudi, China, Rusia, bahkan Amerika Serikat. Ketika sebuah kompetisi ingin mengirim pesan kepada dunia, mendatangkan nama besar sering dianggap sebagai cara paling cepat.
Kini giliran Turki!
Liga ini memang tidak memiliki kekuatan finansial seperti Arab Saudi. Namun, ada keuntungan lain yang membuatnya lebih menarik. Turki merupakan bagian dari UEFA, sehingga pemain tetap berada dalam radar sepak bola Eropa. Peluang tampil di Liga Champions juga menjadi daya tarik tersendiri.
Klub Istanbul Berlomba Datangkan Nama Besar

Sepak bola Turki sangat identik dengan tiga raksasa Istanbul, yakni Fenerbahce, Galatasaray dan Besiktas.
Dari 69 musim kompetisi liga yang sudah berlangsung, 61 gelar dimenangkan tiga klub tersebut. Hanya enam klub yang pernah menjadi juara liga Turki dan empat di antaranya berasal dari Istanbul.
Besarnya dukungan suporter juga membuat ketiga klub tersebut memiliki daya tarik tersendiri. Galatasaray rata-rata mampu menarik sekitar 43.000 penonton ke stadion, sedangkan Fenerbahce sekitar 38.000 dan Besiktas 30.000.
Trabzonspor juga ikut masuk dalam persaingan merebut perhatian. Klub asal kota Trabzon di pesisir Laut Hitam itu membuat pernyataan besar dengan merekrut Mohamed Salah dari Liverpool pada musim panas ini.
Usianya sudah 34 tahun. Namun justru nama sebesar Salah menunjukkan bagaimana klub-klub Turki mulai berani mengambil langkah agresif.
Fenerbahce bahkan lebih dulu mengirim sinyal kuat ketika menunjuk Jose Mourinho sebagai pelatih pada Juni 2024.
Klub tersebut kemudian mendatangkan Nathan Ake dari Manchester City dengan biaya sekitar Rp132 miliar, serta Romelu Lukaku dari Napoli dengan nilai yang kurang lebih sama.
N’Golo Kante juga masuk dalam skuad mereka.
Yang paling berbeda adalah Mason Greenwood. Penyerang Marseille itu masih berusia 24 tahun dan direkrut dengan biaya sekitar Rp858 miliar. Greenwood mencetak 48 gol dalam 81 pertandingan bersama Marseille.
Jadi, Fenerbahce tidak sepenuhnya hanya berburu pemain veteran.
Greenwood masih berada dalam usia produktif. Namun, reputasinya juga dibayangi berbagai persoalan di luar lapangan yang sudah menjadi bagian dari perjalanan kariernya.
Ake yang kini berusia 31 tahun juga akan bergabung dengan Ederson, penjaga gawang Manchester City berusia 33 tahun, serta pemain internasional Prancis lainnya.
Besiktas dan Galatasaray Tak Mau Kalah

Besiktas ikut memperkuat tren tersebut.
Mereka merekrut penyerang Belgia milik Arsenal, Leandro Trossard, dengan biaya sekitar Rp330 miliar. Kepindahan Trossard dari juara Inggris itu cukup mengejutkan.
Besiktas juga mendapatkan Dusan Vlahovic dari Juventus secara gratis. Pemain Serbia itu baru berusia 26 tahun dan masih punya kesempatan untuk menghidupkan kembali kariernya setelah musim yang banyak terganggu cedera bersama Juventus.
Galatasaray bahkan sudah lebih dulu mengeluarkan uang besar untuk membangun skuad.
Victor Osimhen menjadi salah satu rekrutan paling mencolok. Galatasaray membayar sekitar Rp1,43 triliun untuk membeli penyerang tersebut dari Napoli pada 2024.
Osimhen sebelumnya diharapkan pindah ke klub elite Eropa. Chelsea dan Paris Saint-Germain termasuk klub yang tertarik, begitu pula Al-Ahli. Namun kesepakatan mengenai persyaratan pribadi tidak tercapai.
Ia kemudian lebih dulu bergabung dengan Galatasaray sebagai pemain pinjaman sebelum kepindahan permanennya diselesaikan pada akhir Juli 2025.
Galatasaray juga memiliki dua mantan pemain Manchester City, Leroy Sane yang berusia 31 tahun dan Ilkay Gundogan yang berusia 36 tahun.
Komposisi tersebut memperlihatkan satu hal: pengalaman menjadi komoditas penting di Super Lig.
Usia Skuad Menua, Pemain Asing Mendominasi

Rata-rata usia skuad klub Super Lig berada di atas 28 tahun. Sekitar 76 persen pemainnya merupakan pemain asing.
Angka tersebut menggambarkan karakter kompetisi Turki saat ini. Liga itu belum cukup produktif menghasilkan pemain muda yang kemudian dijual ke klub-klub besar Eropa.
Sebagai gantinya, klub-klub Turki banyak mencari pemain berpengalaman dari luar negeri.
Model tersebut membuat Turki punya posisi yang berbeda dibanding Arab Saudi. Pemain masih bisa bermain dalam lingkungan UEFA dan memiliki kemungkinan tampil di Liga Champions.
Bagi pemain yang ingin mendapatkan kontrak besar tanpa sepenuhnya meninggalkan panggung sepak bola Eropa, kombinasi tersebut sulit diabaikan.
Namun ada persoalan yang tidak bisa disembunyikan.
Masalah Finansial di Balik Transfer Besar
Kondisi finansial sepak bola Turki sudah lama menjadi perhatian.
Pada 2019, Federasi Sepak Bola Turki menyatakan klub-klub mereka tidak lagi berkelanjutan secara finansial. Pemerintah kemudian beberapa kali memberikan bantuan untuk mencegah klub besar mengalami kegagalan yang bisa menimbulkan dampak buruk.
Sekarang, ruang tersebut semakin sempit.
Klub-klub telah diperingatkan untuk menangani utang mereka sendiri. Federasi juga membuat aturan Team Spending Limits untuk mendorong klub menyeimbangkan keuangan.
Karena itu, derasnya transfer pemain terkenal belum otomatis berarti fondasi finansial Super Lig sudah sehat.
Fenerbahce, misalnya, memiliki hubungan dengan keluarga Koc, keluarga terkaya di Turki dan satu-satunya perusahaan asal Turki yang masuk Fortune 500.
Klub-klub besar Istanbul memang memiliki akses ke perusahaan besar di dalam maupun luar negeri. Hal tersebut membantu mereka tetap agresif di pasar transfer.
Masalahnya, kondisi ekonomi Turki sendiri sedang sulit. Inflasi disebut berada di angka 30 persen, sementara mata uang negara tersebut terus melemah.
Di tengah situasi itu, klub masih mampu memenuhi kewajiban pajak pemain. Mereka juga memanfaatkan sponsor dan peluang komersial pihak ketiga untuk membantu meningkatkan pendapatan pemain.
Ada pula dukungan tidak langsung dari negara melalui sponsor perusahaan mitra pemerintah dan proyek properti untuk kegiatan olahraga. Pada akhirnya, skema tersebut bisa menciptakan sumber pendapatan bagi klub.
Tetapi model seperti ini tentu memiliki batas.



