Sepak bola

Jose Ramos-Horta usul SBY terlibat pada dialog konflik Myanmar

DKI Jakarta – Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta mengusulkan agar Presiden ke-6 RI sekaligus purnawirawan jenderal TNI Susilo Bambang Yudhoyono terlibat di upaya dialog ASEAN sama-sama otoritas Myanmar untuk meredakan krisis ke negara tersebut.

“Menurut saya, kalau ingin berbicara dengan militer Myanmar atau Tatmadaw pada tingkatan apapun, ajaklah dan juga Pak Susilo Bambang Yudhoyono, dikarenakan beliau adalah jenderal bintang empat, jangan hanya saja mengundang diplomat junior,” kata Ramos-Horta pada Jakarta, Selasa.

Dalam pernyataannya pada program “Leadership Lecture” oleh lembaga Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), ia menjelaskan pentingnya mitra wicara yang digunakan setara di upaya dialog untuk menyelesaikan konflik, satu di antaranya di Myanmar.

Ramos-Horta mencontohkan, ketika ia dahulu ditugaskan pada Sierra Leone, Afrika barat, untuk berdialog dengan otoritas militer setempat, para jenderal yang dimaksud berubah menjadi mitra bicaranya hanya sekali mau mendengarkan ia lalu tiada memerhatikan para diplomat yang tersebut mendampinginya.

Dengan latar belakang tersebut, ia menganggap SBY, sebagai manusia purnawirawan jenderal bintang empat, memiliki prestise besar untuk didengarkan oleh otoritas Myanmar yang dimaksud didominasi militer.

“Jangan sekadar meminta purnawirawan kapten, militer Myanmar tak akan bergerak; ajaklah Pak SBY, dia mungkin saja jadi bisa jadi lebih lanjut terbuka,” kata Presiden Timor Leste.

Lebih lanjut, Presiden Timor Leste itu menganggap keberhasilan SBY mengatasi beberapa orang konflik besar dalam Indonesi pada masa kepresidenannya menjadikannya sebagai sosok yang dimaksud semakin tepat pada membantu penyelesaian konflik Myanmar.

Salah satunya, ucap dia, adalah keberhasilan mengakhiri Konflik Aceh yang mana berkecamuk di dalam provinsi yang dimaksud selama puluhan tahun hingga perjanjian damai ditandatangani pada Helsinki pada 2005.

Ia bahkan mengaku prihatin, sebagai peraih Nobel Damai tahun 1996, bahwa SBY sama-sama Jusuf Kalla, yang dimaksud bermetamorfosis menjadi duta presidennya pada 2004–2009, tidaklah mendapat penghargaan yang tersebut identik berhadapan dengan jasa dia mengakhiri konflik pada Aceh.

“Nobel Keselarasan pada waktu itu cuma diberikan untuk Martti Ahtisaari, padahal mereka itu miliki kepemimpinan nasional, terlepas situasi ketika itu, untuk mencapai penyelesaian konflik pada Aceh,” kata dia, merujuk pada mantan Presiden Finlandia peraih Nobel Damai tahun 2008 itu.

Dalam KTT ke-48 ASEAN yang lalu, para pemimpin se-Asia Tenggara pada dasarnya setuju untuk memperjuangkan tercapainya konsensus terkait isu Myanmar. Namun, pembahasan masih terbuka untuk menentukan langkah selanjutnya yang penting ditempuh untuk Myanmar.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence pada portal web ini tanpa izin tertoreh dari Kantor Berita ANTARA.

Related Articles

Back to top button